CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »
Tampilkan postingan dengan label star trek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label star trek. Tampilkan semua postingan

14 April 2009

21. Bisakah Kita Muncul dan Hilang Sesuka Hati?

star trek enterprise

Pesawat ruang angkasa Star Trek Enterprise

Anda yang gemar menonton serial “Star Trek” tentu hafal nama Enterprise. Ini kapal ruang angkasa yang menjelajahi bintang-bintang. Tidak mudah bagi kapal itu untuk mendarat di sebuah planet supaya para awaknya bisa keluar. Untuk memecahkan masalah ini, kapal itu tetap berlabuh di ruang angkasa tapi memakai suatu teknologi bernama transporter untuk mengirimkan para awaknya ke planet itu. Caranya? Mereka “dipancarkan” dari Enterprise ke planet itu. Segera mereka lenyap dari kapal itu dan terbentuk kembali di planet itu! Dengan kata lain, transporter memungkinkan awak kapal itu mengalami dematerialisasi dan materialisasi.

star trek transporter

Star Trek Enterprise tengah bersiap memancarkan tiga orang awaknya dengan transporternya.

Bisakah manusia mengalami materialisasi dan dematerialisasi? Apakah pandangan Alkitab tentang masalah materialisasi dan dematerialisasi?

Kesulitan “Memancarkan” Manusia

Dari segi ilmu fisika modern, apakah transporter dalam film rekaan ilmiah yang disutradarai Gene Roddenberry itu bisa diwujudkan dalam kehidupan yang nyata oleh perkembangan iptek di masa depan? Sangat sulit, jawab Lawrence M. Krauss, penulis buku sangat laris, The Physics of Star Trek (New York: BasicBooks, 1995).

Lawrence adalah seorang profesor ilmu fisika dan profesor astronomi serta Ketua Jurusan Ilmu Fisika pada Universitas Case Western Reserve di AS. Selain menulis buku-buku, dia juga sudah menulis lebih dari pada 120 artikel ilmiah. Dia juga memberi kuliah secara luas kepada pendengar awam dan profesional serta sering muncul di radio dan televisi di AS.

Mengapa sangat sulit? Menurut Krauss, ada sangat banyak masalah praktis dan mendasar yang harus dipecahkan sebelum seseorang mampu dipancarkan oleh transporter dari satu tempat ke tempat lain. Masalah yang menantang itu mencakup seluruh segi ilmu fisika dan matematika, termasuk teori informasi, mekanika kuantum, teori Einstein tentang hubungan antara massa dan energi, ilmu fisika tentang partikel-partikel elementer, dan lain-lain.

Atom atau informasi yang ditranspor?

Pemancaran ini melibatkan perdebatan tentang dua masalah pokok. Yang dipancarkan itu atom-atom atau informasi dalam bentuk bit dari seseorang?

Dari segi ilmu fisika, seorang manusia dibentuk oleh suatu pola kombinasi yang rumit dari atom-atom. Berapa jumlah atom pada diri seseorang? Secara kasar, ada sekitar 1028 – atau 1 diikuti 28 nol – atom yang membentuk diri seseorang! Apakah mungkin memindahkan seseorang sebagai atom-atom dari satu tempat ke tempat lain?

Beberapa orang pakar media dijital menyiratkan bahwa cara ini kurang tepat. Atom-atom sendiri, menurut mereka bersifat sekunder; yang lebih penting adalah informasi dalam bentuk bit.

Apa itu bit? Bit adalah nama untuk sistem penyiaran informasi yang dipakai oleh komputer.

Untuk memahaminya, kita perlu perbandingan dengan sebuah buku perpustakaan. Satu buku ukuran saku rata-rata – yang berisi kertas-kertas – tersusun dari sekitar 1026 atom! Kalau cuma ada satu buku perpustakaan tentang suatu topik tertentu dan yang membutuhkannya banyak, maka buku ini tentu dipinjamkan oleh setiap orang secara bergilir. Ini berbeda dengan perpustakaan dijital. Sebuah perpustakaan dijital bisa menyimpan informasi yang sama dari buku perpustakaan tadi dalam bentuk bit. Suatu bit berbentuk angka 0 atau 1, yang digabungkan menjadi kelompok delapan yang disebut byte. Byte menandakan kata atau bilangan.

Informasi dalam bentuk byte lalu disimpan dalam inti memori magnetik dari komputer. Di dalam komputer itu, setiap bit disimpan sebagai kawasan yang termagnetisasi (1) atau tidak termagnetisasi (0). Sekarang sejumlah besar pengguna komputer bisa mengakses lokasi memori yang sama pada komputer pada waktu yang pada dasarnya sama.

Jadi, dalam sebuah perpustakaan dijital, setiap orang di mana pun tidak perlu membeli buku dijital itu. Dia bisa membaca satu buku tunggal dari satu sumber tunggal – komputer. Jelas dari kasus ini bahwa menyimpan informasi dalam bentuk bit lebih penting dari pada menguraikan atom-atom buku perpustakaan tadi kemudian membentuknya kembali sebagai buku bagi setiap pembaca.

Dalam kaitan dengan perdebatan tentang atom dan bit, bagaimana tentang masalah memancarkan orang? Mana yang Anda pindahkan: atomnya atau informasinya? Sepintas lalu, memindahkan seseorang sebagai informasi tampak lebih mudah. Maklum, informasi bisa melaju atau merambat pada kecepatan cahaya. Tapi ini akan sulit dilakukan kalau Anda memindahkan manusia sebagai informasi. Pertama, Anda harus menguraikan orang itu sebagai informasi dan ini tidak gampang. Kedua, Anda harus menggabungkannya kembali menjadi utuh sebagai materi karena orang dibentuk oleh atom-atom.

Tapi manusia tidak dibentuk hanya oleh informasi atau atom-atom. Dia juga punya ingatan, impian, jiwa, roh. Kalau seseorang dipindahkan melalui penguraian atom-atomnya, apakah ini berarti atom-atom dalam tubuhnya diciptakan kembali persis seperti keadaannya sebelum dia diuraikan? Kalau atom-atomnya dibentuk kembali, apakah dia akan sama seperti dirinya sebelum mengalami pemindahan itu, lengkap dengan ingatan, impian, jiwa, dan rohnya?

Masalah lain timbul juga kalau seseorang dipancarkan sebagai informasi. Pengiriman informasi dalam bentuk bit sudah dilakukan melalui Internet. Yang ditranspor adalah aliran data dari, misalnya, rencana yang rinci dari sebuah mobil bersama fotonya. Tapi kesulitan besar akan timbul kalau mobil sesungguhnya dikirim melalui Internet.

Meskipun demikian, timbul dua masalah besar kalau kita mentranspor informasi berbentuk bit. Pertama, masalah pembuangan atom-atom dari tubuh yang ditranspor; dan, kedua, masalah replikasi manusia.

Pertama, masalah pembuangan atom-atom dari tubuh yang ditranspor. Kalau tubuh itu ditranspor dalam bentuk informasi, maka atom-atom pada titik awal harus dibuang dan seperangkat atom yang baru harus dikumpulkan pada titik penampungan. Ini masalah yang sangat sulit. Untuk memecahkannya, Anda memutuskan untuk mengubah semua materi ini menjadi energi murni.

Berapa banyak energi yang dibutuhkan? Rumus E=mc2 dari Einstein memberi jalan ke luar. Anggap saja bahwa orang yang akan Anda kirimkan itu seorang dewasa berbobot 50 kilogram. Anda mengubah materi seberat ini menjadi energi. Berapa besar energi yang Anda butuhkan untuk menguraikan dia menjadi energi murni? Energi transformasi yang Anda butuhkan setara dengan lebih dari seribu bom hidrogen yang masing-masing berkekuatan satu megaton! Sulit membayangkan transformasi energi ini dengan cara yang ramah lingkungan.

Kedua, masalah replikasi manusia. Mereplikasi atau menyalin orang yang akan ditranspor dipandang jauh lebih mudah dari pada mentranspornya karena penghancuran orang asli itu tidak diperlukan. Akan tetapi, replikasi manusia akan menimbulkan kesulitan. Mereplikasi seseorang artinya mereplikasi ingatan dan kepribadiannya. Orang yang direplikasi tidak beda benar dengan program komputer, atau kertas kerja kasar dari sebuah buku yang disimpan pada disket. Kalau salah satu kertas kerja itu rusak atau terserang virus, Anda bisa saja menggantikannya dengan program pendukung.

Untuk mentranspor seseorang sebagai atom-atom, ada masalah lain yang harus dijelaskan lebih dahulu. Itulah masalah tentang definisi materi.

Definisi materi

Apa itu materi? Semua materi tersusun dari atom-atom, dan setiap atom terdiri dari inti yang sangat padat yang dikelilingi oleh awan elektron. Sebuah atom kebanyakan berisi ruang yang hampa.

Kalau atom kebanyakan berisi ruang yang hampa, bukankah materi yang satu melewati materi yang lain? Tidak. Yang membuat sebuah dinding kokoh bukanlah partikel-partikel subatomik melainkan medan listrik di antara partikel-partikel subatomik itu. Ini mengakibatkan tangan saya tidak bisa menembus meja kerja saya sekehendak hati ketika saya memukul meja itu. Pukulan tangan saya mengalami penolakan listrik yang dirasakan oleh elektron-elektron pada tanganku. Elektron-elektron di tanganku merasakan penolakan ini karena ada juga elektron-elektron dalam atom-atom meja kerja saya. Jadi, pukulan tangan saya tidak bisa menembus meja kerja saya bukan karena kurangnya ruang yang tersedia bagi elektron-elektron untuk lewat melainkan karena penolakan oleh medan listrik dalam meja kerja itu.

Medan-medan listrik ini tidak hanya membuat materi menjadi kongkrit. Dengan kata lain, medan-medan listrik ini tidak hanya menghentikan benda yang satu melewati benda yang lain. Medan-medan ini juga menahan materi sehingga menjadi utuh.

Kalau begitu, apa yang bisa dibuat supaya benda yang satu bisa melewati benda yang lain? Ubahlah medan listrik dengan mengatasi kekuatan penyatuan dari forsa listrik.

Akan tetapi, mengatasi forsa listrik ini membutuhkan energi. Secara singkat, haruslah terjadi energi ikat atau tenaga ikat. Di dalam atom, tenaga ini mengikat proton dan neutron dalam suatu inti yang membentuk energi yang jutaan kali lebih kuat dari pada energi ikat atom. Energi yang hebat ini bisa dilepaskan melalui reaktor nuklir atau senjata nuklir.

Dibanding dengan ikatan proton dan neutron, energi ikat antara partikel-partikel elementer bernama kuark-kuark jauh lebih kuat. Menurut perhitungan, dibutuhkan jumlah energi yang tak terbatas untuk memisahkan kuark-kuark yang membentuk setiap proton atau neutron dalam atom.

Apakah energi ikat antara kuark-kuark bisa dilepaskan juga? Bisa. Untuk melepaskan ikatannya, Anda perlu mendidihkan inti atom sampai dengan sekitar 1.000 miliar derajat! Ini kira-kira sejuta kali lebih panas dari pada suhu pada inti Matahari! Sesudah energi kuark-kuark dilepaskan pada suhu ini, materi tiba-tiba kehilangan hampir semua massanya. Materi lalu berubah menjadi radiasi; dengan kata lain, materi mengalami dematerialisasi.

Jadi, untuk mengatasi masalah energi ikat atau tenaga ikat dari materi pada tingkatnya yang paling mendasar, Anda harus mendidihkannya sampai mencapai suhu 1.000 miliar derajat. Dalam kesatuan energi, ini berarti Anda harus menyediakan sekitar 10 persen massa rihat – massa yang tidak bergerak – dari proton dan neutron dalam bentuk panas. Karena itu, untuk mendidihkan suatu contoh sebesar seorang manusia sampai mencapai tahap ini, Anda membutuhkan sekitar 10 persen energi itu untuk menghancurkan bahan itu. Energi sebesar 10 persen ini setara dengan seratus bom hidrogen yang masing-masing berkekuatan 1 megaton!

Kesimpulan

Pendek kata, tidak mudah memindahkan seseorang dari satu tempat ke tempat lain dengan “memancarkannya”, entah sebagai atom-atom atau sebagai informasi berbentuk bit. Menurut Lawrence M. Krauss, upaya ini melibatkan masalah mekanika kuantum, ilmu fisika partikel, ilmu komputer, hubungan massa-energi dari Einstein, dan bahkan adanya jiwa manusia. Tentu kesimpulannya berdasarkan pengetahuan terkini yang dia peroleh sampai dengan saat dia menerbitkan bukunya pada tahun 1995, khususnya dalam ilmu fisika modern.

Muncul-Hilangnya Yesus Sulit Dijelaskan

Dari kesimpulan Krauss, kita bisa memastikan bahwa cara Yesus muncul dan hilang sesudah kebangkitan-Nya sulit dijelaskan melalui teknologi pemancaran. Alkitab bercerita bahwa Yesus hadir dalam ruang tertutup dan lenyap dari ruang itu tanpa proses fisikal apa pun yang dijelaskan Krauss tadi. Tidak ada teknologi yang “memancarkan” Yesus sebagai hasil uraian atom-atom-Nya, sebagai informasi berbentuk bit, atau sebagai energi murni dari satu tempat ke tempat lain. Selain itu, tidak ada laporan Perjanjian Baru tentang pelepasan energi yang sangat dahsyat yang menimbulkan dentuman yang dahsyat ketika Dia muncul dan hilang sesuai kehendak-Nya. Jadi “materialisasi” dan “dematerialisasi” Yesus tanpa dentuman dan radiasi energi thermal yang mematikan; kedua proses ini - sulit dijelaskan - terjadi atas kehendak-Nya sendiri karena Dia Pencipta dan Penguasa materi.

Raibnya Orang Kristen di Angkasa Karena Pemancaran?

Paulus menyibak cara orang-orang Kristen yang sudah mati dan yang masih hidup diangkat Tuhan secara ajaib ke angkasa. Dalam 1 Tesalonika 4:16-17, dia menulis: “Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.”

rapture3

Suatu lukisan tentang terangkatnya orang-orang percaya ke angkasa.

Suatu waktu di masa depan, orang-orang Kristen yang mati dan hidup akan diangkat hidup-hidup untuk menyambut Tuhan di angkasa ketika Dia datang kembali. Akan tetapi, penjelasan Paulus tentang bagaimana mereka mengalami pengangkatan itu begitu singkat dan umum sehingga kita sulit menentukan apakah cara pengangkatan ini berkat pemanfaatan teknologi pemancaran atau tidak.

rapture2

Lukisan lain tentang orang-orang percaya yang terangkat ke awan-awan; yang belum atau tidak terangkat berdiri menyaksikan peristiwa ajaib itu.

Dia mulai dengan menjelaskan secara sangat ringkas dan umum beberapa tahap atau prosedur pengangkatan itu. Tahap-tahap apakah itu?

Pertama, pengangkatan didahului dengan pemberian tanda yang bisa didengar setiap orang Kristen yang akan diangkat. Penghulu malaikat berseru dan sangkala Allah berbunyi. Apakah kedua sumber bunyi sebagai tanda tadi memang akan terdengar persis seperti yang ditulis Paulus? Ataukah kedua sumber bunyi itu adalah analogi tentang adanya suatu energi yang bisa didengar yang menghasilkan transportasi orang-orang percaya itu ke angkasa? Kita sulit memastikan energi bunyi apakah yang menandakan awal pengangkatan orang-orang Kristen itu. Dengan demikian, kita pun sulit memperkirakan bahwa pengangkatan itu hasil pemancaran besar-besaran umat percaya ke angkasa untuk menyongsong Tuhan.

Kedua, ketika tanda tadi dibunyikan, “Tuhan sendiri akan turun dari sorga.” Caranya Dia turun: langsung atau dengan memakai kendaraan sorgawi? Paulus tidak menjawab pertanyaan ini kecuali dengan menyiratkan bahwa Tuhan akan berada hanya di angkasa, jadi tidak akan ada di permukaan Bumi. Entah secara langsung entah tidak, turunnya Tuhan dari sorga akan diketahui melalui kedua tanda bunyi tadi.

Ketiga, apakah sorga suatu dimensi atau keberadaan yang lain – semacam alam semesta paralel? Kalau sorga memang realitas lain, apakah turunnya Tuhan dari sorga berarti Dia menembus dinding dimensional alam semesta kita melalui kedua tanda bunyi itu supaya kita mampu melihat-Nya? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan diberikan ketika kita membicarakan masalah sorga secara khusus.

Keempat, apakah turunnya Tuhan dari sorga akan tampak di seluruh dunia? Kalau memang demikian, bagaimanakah Dia akan tampak: melalui televisi di dunia atau semacam televisi angkasa? Paulus tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan ini. Entah dengan satu dan lain cara, Tuhan akan menampakkan diri-Nya pada umat manusia, khususnya umat percaya yang akan diangkat-Nya ke angkasa.

Kelima, baik mereka yang mati dalam Kristus dan akan dibangkitkan maupun orang Kristen yang hidup akan diangkat bersama-sama ke angkasa. Untuk apa? Untuk “menyongsong Tuhan di angkasa” supaya “kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan". Dia menyiratkan bahwa orang Kristen akan mengalami transformasi dari dunia caturdimensional ke dimensi lebih “tinggi,” yaitu kekekalan bersama-sama dengan Tuhan di sorga.

Keenam, Paulus secara singkat menjelaskan cara orang Kristen yang mati lalu dibangkitkan dan orang Kristen yang hidup menyongsong Tuhan di angkasa. Mereka semua akan diangkat bersama-sama “dalam awan". Apakah yang dimaksud dengan frasa ini? Kita tidak tahu maknanya karena Paulus tidak memperjelasnya. Yang jelas terjadi suatu proses transformasi misterius dari dunia caturdimensional ke dalam dimensi lain di angkasa sebelum orang Kristen diangkat masuk sorga, berada bersama-sama dengan Tuhan dalam kekekalan. Dengan demikian, kita tidak bisa menetapkan apakah proses transformasi ini hasil pemancaran orang Kristen, entah sebagai atom-atom, informasi, atau energi murni.

Apokalipse Berarti “Menerobos” atau Menyingkapkan Yohanes, salah seorang rasul Yesus, menulis Kitab Wahyu di pulau Patmos, sebuah pulau di lepas pantai Turki masa kini. Kata “wahyu” berasal dari kata Yunani kuno Apocalypse. Kata ini berarti “menerobos” atau menyingkapkan. Yohanes diizinkan Yesus untuk “menerobos” dinding dimensi manusia untuk menyingkapkan rahasia-rahasia sorgawi yang akan terwujud di masa depan bagi kita.

Langit yang baru dan bumi yang baru

Dalam suatu rangkaian penglihatannya yang luar biasa, Yohanes memerikan langit yang baru, bumi yang baru, dan Yerusalem Baru yang akan datang. “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya” (Wahyu 21:1-2).

Penglihatan Yohanes bisa kita bagi dalam dua pokok. Pertama-tama, dia melihat langit yang baru dan bumi yang baru. Kemudian, dia melihat Yerusalem yang baru.

new jerusalem

Yerusalem yang baru, menurut suatu lukisan.

Dalam Prophecies of Heaven The Last Frontier (New York: Bantam Books, 1990), Grant R. Jeffrey menjelaskan langit yang baru, bumi yang baru, dan Yerusalem yang baru. Menurutnya, langit atau sorga adalah tempat kediaman Allah dan sejumlah besar malaikat. Kota Yerusalem yang baru kini berlokasi di sorga. Di masa depan, Yerusalem yang baru akan turun ke bumi yang baru tempat ia akan berada di antara banyak kota besar yang baru di bumi yang baru. Akan tetapi, Yerusalem yang baru berbeda dengan kota-kota besar baru lainnya. Yerusalem yang baru akan menjadi suatu tempat yang khusus: tempat kediaman Mempelai Kristus – Kristus dan jemaat milik-Nya. Sebelum Yerusalem yang baru turun dari langit, baik langit maupun bumi masa kini sudah dimurnikan – melalui api – dari dosa-dosa. Dengan kata lain, dosa tidak akan ada dalam langit yang baru dan bumi yang baru atau Yerusalem yang baru karena ketiga tempat ini kekal.

Penjelasan Jeffrey menunjukkan bahwa langit yang baru, bumi yang baru, dan Yerusalem yang baru memiliki dimensi-dimensi yang baru. Sorga tentu punya dimensi tersendiri, tapi Yerusalem yang baru akan berada dalam dimensi ruang-waktu yang dibaharui di Bumi. Jadi, sorga sebagai dimensi yang lebih “tinggi” mewariskan Yerusalem yang baru kepada bumi yang baru, suatu tempat caturdimensional.

Di manakah persisnya lokasi sorga?

Alkitab tidak menyingkapkan lokasi tepat dari sorga. “Banyak orang percaya ia pasti berada dalam dimensi lain,” kata Jeffrey. “Akan tetapi, Alkitab selalu memerikan lokasi sorga sebagai berada ‘di atas’ dan ‘di utara’.” (Billy Graham, penginjil kenamaan asal AS itu, menambahkan bahwa kompas pada kapal laut atau pesawat terbang, misalnya, selalu menunjuk ke utara – mungkinkah itu lokasi sorga?) Beberapa orang ahli astronomi yang adalah juga pemeluk Kristen percaya bahwa sorga boleh jadi berada “dalam dimensi kita yang jaraknya bertahun-tahun cahaya jauhnya dari Bumi kita dalam suatu arah bagian utara,” Jeffrey menjelaskan.

heaven gates

Gerbang-gerbang menuju sorga, menurut bayangan seorang pelukis.

Lanjutan penjelasan Grant R. Jeffrey belum mampu mendefinisikan ciri-ciri sorga, ditinjau dari teori tentang ruang hiper. Lokasi itu mungkin memiliki dimensi yang lebih “tinggi” atau dimensi ruang-waktu kita yang sudah diperbaharui.

08 Oktober 2008

1. Berdimensi Lebih "Tinggi" dari Dunia Tridimensional Kita

Imajinasi tentang ruang hiper mutidimensional

Suatu gambar imajinatif tentang ruang hiper, ruang dengan banyak dimensi.

Salah satu revolusi konseptual dalam sains – khususnya, ilmu fisika teoritis – menjelang akhir abad ke-20 adalah teori tentang ruang hiper. Gaung tentang teori itu masih terdengar di abad ke-21. Pakar-pakar ilmu fisika modern dari Amerika Serikat dan Eropa Barat tengah berlomba untuk menemukan suatu partikel yang oleh seorang penulis dijuluki “partikel Allah”. Setiap pihak punya mesin penghancur materi subatomik yang dinamakan akselerator partikel; melalui eksperimen penghancuran partikel-partikel subatomik, mereka berharap bisa menemukan dimensi-dimensi lain di luar dimensi ruang dan waktu yang kita alami. Disadari bahwa ruang hiper mungkin adalah kunci untuk membuka rahasia-rahasia dari alam dan Penciptaan itu sendiri. Implikasi-implikasinya bahkan bisa memperkuat keyakinan religius kita.

Mengapa Ruang Hiper Dibutuhkan

Teori tentang ruang hiper karena itu sering disebut ruang berdimensi lebih “tinggi”. Secara ringkas, ruang ini memiliki dimensi-dimensi tambahan yang ada di luar empat dimensi yang sudah diterima umum: ruang – panjang, lebar, tinggi atau dalam – ditambah waktu. Teori tentang ruang hiper adalah suatu rangkaian kesatuan ruang dan waktu hipotetis, ruangwaktu yang di atas kertas dipandang ada. Diduga rangkaian kesatuan ini memungkinkan gerak (motion) dan komunikasi mencapai kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya. (Kecepatan cahaya adalah unsur tercepat dalam alam semesta, yaitu sekitar 300.000 kilometer per detik.)

Para pakar ilmu fisika teoritis modern tentang ruang hiper mengatakan dimensi ketiga ditambah waktu terlalu kecil untuk mencakup realitas yang sangat luas dan dalam yang masih tersembunyi “di luar sana.” Untuk mampu memahami realitas yang masih tersembunyi ini, mereka mengemukakan teori tentang ruang hiper.

Dunia tridimensional yang mampu kita, makhluk manusia, alami adalah suatu “kecelakaan yang sial,” tulis Dr. Michio Kaku, seorang ahli imu fisika teoritis dari Amerika Serikat yang boleh dikatakan mempopulerkan teori tentang ruang hiper ke seluruh dunia pertengahan 1990-an. Menurut perkiraan Kaku, kecelakaan yang sial ini lebih disebabkan biologi ketimbang ilmu fisika. Sejarah perkembangan manusia memberinya kemampuan untuk melihat benda-benda dalam tiga dimensi. Kemampuan visual ini selanjutnya memberinya kemampuan khusus untuk mengelak dari sergapan singa bergigi setajam ujung pedang yang hidup di zaman purba tapi yang kini sudah punah. Dengan kemampuan khusus ini juga, manusia purba mampu melemparkan sebatang tombak pada seekor mamot – sejenis gajah raksasa berbuluh lebat tapi sudah punah – yang berlari mendekat untuk menyerang.

Harimau pun tidak menyerang manusia dalam dimensi spasial keempat. Karena itu, tidak ada manfaatnya bagi pengembangan suatu otak yang mampu melihat benda-benda dalam dimensi spasial keempat. Dunia tridimensional kita ditambah waktu lalu menjadi keterbatasan kita sementara secara teoritis dan matematik ada dimensi (spasial) keempat, kelima, dan bahkan dimensi (spasial) kesepuluh dalam alam semesta. Tambahkanlah waktu sebagai dimensi temporal pada bermacam-macam dimensi spasial ini dan Anda akan memperoleh kesatuan ruangwaktu yang lebih “tinggi” dari kesatuan ruangwaktu yang kita alami sehari-hari.

Dari sudut-pandang matematika, penambahan dimensi-dimensi lebih tinggi adalah suatu keuntungan yang nyata. Penambahan ini memampukan kita memerikan makin banyak forsa dalam alam semesta di samping keempat forsa fundamental alam yang sudah diketahui: gravitasi, elektromagnetisme, nuklir kuat, dan nuklir lemah. Dengan kata lain, penambahan lebih banyak dimensi pada suatu teori selalu memampukan kita menyatakan lebih banyak hukum ilmu fisika.

Suatu analogi bisa menolong. Orang-orang zaman purba bingung memahami cuaca. Mengapa lebih dingin kalau kita ke utara? Mengapa angin bertiup ke barat? Apa asal-usul musim-musim? Bagi orang-orang purba, pertanyaan-pertanyaan ini adalah misteri-misteri yang tidak bisa dipecahkan. Dari sudut-pandangnya yang terbatas, mereka tidak bisa memecahkan misteri-misteri ini.

Tentu kuncinya adalah melompat ke dimensi ketiga. Orang harus naik ke ruang angkasa, melihat bahwa Bumi sebenarnya suatu bundaran mirip bola kaki yang beredar keliling suatu sumbu yang miring. Segera, misteri-misteri tentang cuaca menjadi tersingkap. Musim, angin, pola suhu, dan lain-lain menjadi jelas begitu kita melompat ke dimensi ketiga.

Ilmu Fisika Teoritis Makin Mirip Rekaan Ilmiah

Teori tentang ruang hiper belum dibuktikan melalui percobaan-percobaan ilmiah. Sesungguhnya, teori ini sulit sekali dibuktikan di laboratorium. Akan tetapi, teori ini tak pelak sudah mengubah pandangan ilmiah tentang ilmu fisika modern. Ia sudah menghasilkan sekitar 5.000 makalah riset dalam kesusastraan ilmiah. Selain itu, lebih dari 200 konferensi internasional sudah disponsori untuk menjelajahi konsekuensi-konsekuensi dari dimensi-dimensi lebih tinggi dari teori ruang hiper.

Meskipun belum bisa dibuktikan melalui eksperimen-eksperimen, teori tentang ruang hiper sudah dimantapkan sebagai suatu cabang sah dari ilmu fisika modern. Revolusi konseptual ini mengakibatkan Steven Weinberg, pemenang Hadiah Nobel bidang Ilmu Fisika tahun 1979, mengatakan bahwa ilmu fisika teoritis tampak makin mirip rekaan ilmiah, termasuk mirip film-film rekaan ilmiah.

Mungkin Anda pernah menonton film-film rekaan ilmiah tentang perjalanan menembus waktu di alam semesta. Film-film ini mencakup perang antar-bintang, kunjungan makhluk-makhluk luar angkasa ke bumi, atau pakar-pakar penerbangan dari bumi yang bisa memasuki dimensi lain yang aneh atau yang mirip dimensi di bumi lalu kembali memasuki dimensi sesungguhnya dari bumi kita. Entah disadari atau tidak, Anda sudah mengetahui satu dan lain hal tentang ruang hiper melalui film-film rekaan ilmiah itu.

Perjalanan menembus waktu (time travel) merupakan suatu kajian ruang hiper. Anda yang ingin memahami perjalanan menembus waktu ke alam semesta yang lain secara audiovisual dan imajinatif bisa menonton film Back to the Future I, II dan III – setiap jilid berisi dua cakram – dan Time Machine, kedua-duanya bisa dibeli dalam bentuk VCD di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Dalam kedua film ini, para tokohnya bepergian dari satu tahun ke tahun yang lain, entah di masa depan atau di masa lampau, dengan alat transportasi khusus yang disebut “mesin waktu” yang super cepat dan kembali dari salah satu masa itu ke tahun sekarang. Selain melalui mesin waktu, manusia bisa mengadakan perjalanan menembus waktu ke alam semesta lain melalui semacam terowongan khusus yang mirip lubang cacing dan karena itu disebut lubang cacing (worm hole). Serial “Gliders” yang pernah ditayangkan salah satu stasiun TV swasta Indonesia adalah salah satu contoh penjelasan secara audiovisual, dramatik, dan imajinatif dari lubang cacing itu.

Selain Back to the Future dan Time Machine yang sudah disinggung, Anda barangkali pernah menonton dua film rekaan ilmiah tenar lain: Star Wars dan Star Trek. Kedua film yang disebut terakhir bisa Anda peroleh dalam bentuk VCD atau DVD pada toko-toko penjualnya di Jakarta atau di kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Dalam Star Wars, ruang hiper menyediakan jalan-jalan pintas antara bintang-bintang. Kapal-kapal ruang angkasa hanya menderu-deru bersama-sama dalam ruang hiper yang di dalamnya mesin-mesin super canggih kapal-kapal itu melengkungkan atau membelokkan (warp) ruang angkasa di sekitarnya dan melangkaui (bypass) alam semesta. Tokoh Luke Skywalker memakai ruang hiper sebagai tempat perlindungan untuk meloloskan diri dari kapal ruang angkasa milik Kekaisaran.

Ingat Kapten Kirk dalam Star Trek yang mengadakan perjalanan misi antar-bintang selama “lima tahun” di abad ke-23? Untuk menghindari konfrontasi dengan alien yang tidak bersahabat, Kirk, kapten kapal ruang angkasa Enterpirse, memerintahkan Ahli Mesin Scotty untuk meningkatkan kecepatan kapal itu pada “warp factor 6.” Mesin-mesin sangat kuat itu membuka suatu jalan ke dalam dunia ajaib dari “ruang hiper” dan dalam sekejap Enterprise mengambil suatu jalan pintas menembus ruang angkasa. Suatu perjalanan menuju bintang terdekat yang dulunya membutuhkan beberapa abad sekarang malah membutuhkan satu atau dua menit! Karena memakai mesin-mesin penghasil faktor lengkungan waktu tadi, Kapten Kirk, kapal, dan awaknya selamat untuk melanjutkan misinya.

Star Trek Deep Space Nine berdasarkan konsep-konsep dari teori Georg Bernhard Riemann tentang lubang-lubang cacing. Riemann seorang ahli matematika asal Jerman abad ke-19; dia pernah gagal menjadi seorang ahli teologia Kristen. Perjalanan-perjalanan melalui galaksi-galaksi yang jauh dimungkinkan oleh lubang-lubang cacing dan pintu-pintu ruang angkasa yang lain.

Mesin Penggerak Hiper

Terkadang, beda antara sains dan fiksi ilmiah samar-samar. Masa kini, para fisikawan dan ahli astronomi tengah menjelajahi gagasan-gagasan baru yang bisa mendasari suatu masa depan yang sekurang-kurangnya sama gairahnya dengan gairah abad ke-23 Kapten Kirk.

Suatu makalah ilmiah tulisan Pavlos Mikelides, seorang insinyur penerbangan luar angkasa pada Universitas Negara Bagian Arizona di Tempe, tahun 2005 tampak mengacu pada sejenis mesin kapal ruang angkasa masa depan yang akan menembus ruang hiper juga. Oleh penulisnya, mesin itu disebut “motor hyperdrive”, semacam mesin penggerak hiper bermotor. Mesin ini, menurut penulis makalah itu, mampu menggerakkan sebuah pesawat pada kecepatan sangat tinggi untuk menembus dimensi lain di luar dimensi ruangwaktu. Pesawat dengan mesin penggerak hiper bermotor bisa, misalnya, mempercepat perjalanan dari Bumi ke Mars – tidak dalam hitungan bulan tapi dalam hitungan jam, bisa 5 jam.

Gagasan Mikelides bukan baru. Konsep mesin penggerak hiper bermotor dimulai 1950-an oleh seorang fisikawan Jerman yang kurang terkenal pada dasawarsa ini: Burkhard Heim (1925-2001). Dia mengutak-atik teorinya begitu rupa sehingga propulsi mesin hipernya bisa melaju menembus ruang angkasa saddimensional (six-dimensional space). Pada tahun 1980, Walter Droscher, seorang karyawan kantor paten asal Austria, memperluas teori Heim tentang mesin penggerak hiper bermotor Heim. Hasilnya: “ruang Heim-Droscher”, suatu pemerian matematik dari suatu alam semesta yang berdimensi delapan.

Dengan mengandalkan ruang Heim-Droscher, sebuah pesawat ruang angkasa yang memakai propulsi mesin hiper mampu mengandalkan “pengurangan gravitasi” atau “antigravitasi” yang sudah diinduksi medan magnetik untuk memasuki ruang hiper multidimensional. Kecepatan yang dicapai pesawat ini? Beberapa kali lebih cepat dari kecepatan cahaya!

Konsep Heim dan Droscher masih kontroversial. Tapi kemungkinan untuk mengembangkan mesin penggerak hiper bermotor macam ini masih terbuka.

Komputer 4D

Berbeda dengan konsep tadi, teknologi informasi sudah mampu menghasilkan lingkungan spasial keempat – panjang, lebar, tinggi/dalam plus suatu dimensi baru! Menurut ScienceDaily Magazine (14 Desember 1998), Robert Kusner, seorang profesor ilmu matematika pada Universitas Massachusetts di Amerika Serikat, dan koleganya berhasil menciptakan lingkungan 4 dimensi spasial – disingkat 4-D – pada komputer. Program lingkungan 4-D ini diciptakan James Lawrence, seorang mahasiswa bukan tingkat S1 pada universitas itu.

4D Computer Suatu komputer 4D

Di layar komputer, lingkungan 4-D menunjukkan bentuk-bentuk yang mirip kue donat dan bola-bola berwarna-warni dengan cahaya neon. Bola-bola ini berguling-guling dan berputar-putar dengan cara-cara yang sukar diuraikan. Bentuk dan gerak bola-bola itu bahkan memikat dan membingungkan mata yang tidak terlatih. “Tidak ada bagian dalam atau bagian luar. Ada gerak maju dan mundur, tapi juga gerak maju hiper dan mundur hiper,” kata Kusner, direktur Laboratorium GANG (Geometry, Analysis, Numercis & Geophysics). Kusner juga mengajar dan melakukan riset tentang analisis geometrik.

Mengutak-atik program komputer itu dalam 4 dimensi, menurut Kusner, adalah suatu keahlian yang bisa dipelajari, seperti belajar bermain musik. Mula-mula, upaya belajar itu bisa menemui kesulitan karena lingkungan 4-D “bukanlah dunia yang kita alami sehari-hari,” Kusner menjelaskan. “Jadi sulit untuk tahu Anda di mana.” Selanjutnya, Kusner menambahkan bahwa dimensi keempat memang ada di alam semesta; para fisikawan teoritis dan matematikawan bersikukuh dengan pendiriannya bahwa alam semesta bersifat multidimensional. Jadi, meskipun sulit dipahami, dimensi keempat sebagai suatu bagian dari alam semesta yang multidimensional bisa diciptakan melalui program komputer tertentu dan dipertunjukkan di layar komputer.

Lalu, apa alasannya orang mengutak-atik lingkungan 4-D melalui komputer? Ada banyak alasan, jawab Kusner. Dia memberikan tiga dari sekian alasan itu.

Pertama, upaya ini bisa memberi kita suatu jalan untuk menelusuri sejumlah data yang sangat besar ketika kita ingin mencari-cari korelasi. Misalnya, para periset dalam ilmu tentang epidemi memanfaatkan program lingkungan 4-D untuk menyelidiki sebab-sebab orang terserang penyakit-penyakit tertentu. “Memvisualisasi banyak dimensi bisa menolong untuk menemukan korelasi yang ada dalam seperangkat data yang sangat besar,” kata Kusner. “Korelasi adalah tempat hal-hal berjejer, korelasi adalah tempat Anda menemukan jawaban-jawaban.”

Kedua, dimensi spasial keempat melalui program komputer memberi penjelasan visual bagi beberapa konsep yang sebelumnya sulit menjadi bisa dipahami sekarang dalam dimensi-dimensi yang lebih tinggi. James Lawrence, mahasiswa Universitas Massachusetts yang menciptakan program lingkungan 4-D itu, mengeluarkan sebuah bentuk di layar komputer. Bentuk itu mirip dua gagang atau pegangan keranjang yang masing-masing berkaitan pada titik puncaknya. Salah satu pegangan itu diiris oleh sebuah bidang berwarna abu-abu sementara pegangan yang lain, yang masih berhubungan, mengambang di bawah pegangan di atasnya. Gambar itu adalah suatu parabol yang rumit yang menandakan akar pangkat dua dari sebuah bilangan negatif. Ini sebuah bilangan yang dicap sebagai “imajiner,” sebuah bilangan yang begitu sulit untuk dimengerti sehingga guru-guru pernah mengatakan pada murid-murid mereka untuk mengabaikannya.

Ketiga, visualisasi 4-D punya kegunaan dalam ilmu fisika tentang energi tinggi. Dalam musim panas tahun 1998, para periset dari Jepang dan AS membuat penemuan dari partikel subatomik yang disebut neutrino. Dunia ilmu fisika sebelumnya mengatakan bahwa neutrino tanpa massa. Akan tetapi, penemuan terbaru dari para periset tadi membuktikan secara mengejutkan kepada para pakar ilmu fisika bahwa neutrino punya massa. Mereka menemukan massa neutrino ini melalui visualisasi 4-D. Program aplikasi komputer ini memampukan mereka menelusuri neutrino melalui ruang dan waktu, dan menetapkan bagaimana neutrino-neutrino berinteraksi.

“Kebanyakan orang cenderung berpikir bahwa dunia bersifat tridimensional: kini-kanan, mundur-maju dan atas-bawah. Barangkali mereka memikirkan waktu sebagai dimensi keempat: sebelum-sesudah. Para ahli matematika memberikan bilangan-bilangan pada kuantitas-kuantitas ini,” Kusner menjelaskan. “Dengan mempertimbangkan sebuah kotak, mereka barangkali bertanya: Berapa lebarnya kotak itu? Berapa dalamnya kotak itu? Berapa tingginya kotak itu? Berapa lama kotak itu ada? Mereka bahkan bisa saja memakai bilangan-bilangan lain untuk memerikan ciri-ciri menonjol lain dari kotak itu. Berapa beratnya kotak itu? Apa warnanya? Jadi mereka mengenakan bukan tiga atau empat bilangan melainkan lima atau enam atau bahkan lebih banyak bilangan pada kotak itu. Dalam arti ini, menurut para ahli matematika, kotak itu bisa punya lebih dari tiga atau empat dimensi yang lazim itu.”

Torus 4 Dimensi

Ruang empat dimensi sudah diperikan secara matematik menjadi bentuk-bentuk yang aneh dalam empat dimensi. Salah satu bentuk itu adalah torus, suatu bentuk mirip donut tapi berdimensi empat. Suatu torus caturdimensional punya suatu kulit ; kulit ini adalah suatu lingkaran kali suatu lingkaran kali suatu lingkaran. Suatu model torus 4D ( W,X, Y, dan Z) tidak bisa Anda buat dalam ruang 3D, sama seperti Anda tidak bias membuat suatu bentuk 3D dalam suatu bidang yang tipis. Tapi kalau Anda mengiris bentuk 4D itu, Anda memperoleh suatu irisan 3D.

Simaklah bentuk torus 4D berikut:

Perangkat gambar torus 4D

Anda bisa memahami bentuk-bentuk torus 4D lain dan bentuk-bentuk 4D lain melalui Internet. Bentuk-bentuk torus ini diperagakan melalui video sehingga Anda akan mengamati ciri-cirinya lebih baik. Suatu penelitian ilmiah dari dua orang pakar komputer Universitas Indiana, AS, berjudul "Multimodal Exploration of the Fourth Dimension" berisi berbagai gambar bentuk 4 D. Kedua situs yang bisa Anda akses itu - mungkin harus langsung di kotak alamat di bawah tool bar Internet - adalah http://www.dr-mikes-maths.com/4d-torus.html dan http://www.cs.indiana.edu/~huizhang/viz05.pdf.

Pemindai Bayi dalam Empat Dimensi

Teknologi kedokteran modern sudah begitu maju sehingga bayi dalam rahim ibunya bisa dipindai dalam empat dimensi. Gambar bayi menjadi luar biasa karena dokter yang memindai bayi itu bersama ibu dan keluarganya bisa menonton di layar monitor lebih banyak sisi bayi itu dibanding pemindaian dalam tiga dimensi.

Anda bisa menyaksikan pemindaian 4D ini di Internet. Salah satu dari sekian alamat situs Web yang bisa Anda tonton adalah http://www.mefeedia.com/. Untuk menonton pemindaian 4D bayi dalam kandungan ibunya pada alamat situs Web pertama, pastikanlah Anda ada di Home situs ini. Ada kotak dialog agak di bawah ke kanan. Ketik di dalamnya My baby 4D scan lalu klik. Kemudian, gulunglah halaman ke bawah dan Anda akan melihat judul-judul dekat gambar video berikut: Window to the womb 4d baby scan studio, Baby, Wonderful 4D Baby Scans Video, dan 4D Ultrasound-Overjoyed Parents. Klik mana yang ingin Anda tonton. Yang lain adalah http://www.windowtothewomb.co.uk/. Klik situs ini kemudian klik Videos di bagian atasnya dan Anda bisa menonton pemindaian 4D dari bayi yang ada dalam rahim ibunya.

Alice’s Adventures in Wonderland

Selain konsep Heim-Droscher dan lingkungan 4-D pada komputer tadi, teori yang dikembangkan Riemann menjadi suatu gagasan berharga yang mendasari banyak dongeng klasik dari Barat. Salah satu di antaranya adalah dongeng terkenal di seluruh dunia, Alice’s Adventures in Wonderland (terbit pertama kali tahun 1865) karangan Lewis Caroll, nama samaran dari Charles Lutwidge Dodgson, asal Inggris. Dongeng ini adalah sebuah fantasi hiburan bagi Alice Liddell, puteri kedua seorang sarjana sastra klasik bernama Henry George Liddell, ketua Gereja Kristus di Inggris. (VCD dongeng ini sudah dipasarkan di Indonesia.)

Tokoh Alice, seorang gadis muda dalam dongeng itu, sebenarnya jatuh melalui ruang hiper. Ketika gadis itu jatuh melalui sebuah lubang yang digali seekor kelinci sebagai rumahnya, dia melangkah melewati cermin dan memasuki tanah ajaib. Tanah ajaib adalah dunia yang berbeda dengan dunianya sendiri karena hal-hal ajaib dan tidak alami terjadi di sini. Ini terjadi karena Alice ada dalam ruang hiper, suatu dimensi yang berada di luar dari apa yang biasanya dia tahu. Tanah ajaib yang dia masuki tidak tampak dari dunianya sendiri.

Persis sama dengan kita karena kita tidak bisa melihat ruang hiper. Ini seperti dunia kita: meskipun berbentuk bola, dunia kita tampak datar bagi kita. Jadi, ruang hiper hanya bisa kita lihat begitu kita memasukinya.

Ruang Hiper dalam Alkitab?

Tampaknya, ruang hiper tersirat dalam Alkitab melalui berbagai kisah ajaib. Itu ada dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Muncul-lenyapnya malaikat sesuka hatinya dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru menyiratkan ruang hiper. Seandainya tokoh-tokoh alkitabiah yang ditemui utusan Allah ini memahami dimensi-dimensi lebih “tinggi” dari dunia malaikat, misteri muncul-lenyapnya mereka sesuka hatinya bisa mereka singkapkan lebih jauh, tanpa kebingungan, rasa takut, rasa gentar. Yang malah sering terjadi adalah kebingungan, rasa takut, rasa gentar ketika mereka mengalami perjumpaan dengan utusan Allah itu. Suasana emosional hebat tadi terjadi karena, sebagai makhluk tridimensional, mereka mengalami sepotong realitas ruang hiper yang menunjukkan kuasa hebat para penghuninya – para malaikat. Jelas, ini bukan realitas sehari-harinya.

Selain utusan Allah tadi, Raja Belsyazar dari Babilonia kuno (meninggal Oktober 539 s.M.) diperkirakan sudah menyaksikan suatu kejadian dari ruang hiper. Itu suatu insiden yang sangat menakutkan dan menggoncangkannya. Dia tiba-tiba melihat punggung tangan dan jari-jari yang menulis pada kapur dinding istananya. Alih-alih melihat seluruh tubuh sosok yang menulis itu, sang raja hanya melihat bagian kecil dari seluruh tubuh itu.

Ruang hiper diindikasikan oleh pengalaman Petrus yang lolos dari penjara, suatu pengalaman yang sulit dijelaskan melalui logika konvensional. Penjara itu terkunci dan dikawal prajurit-prajurit; kedua tangan Petrus dalam penjara itu dirantai. Suatu malam, seorang malaikat Tuhan datang memerintahkan Petrus mengikutinya. Petrus yang mengira malaikat itu datang padanya dalam mimpinya mengikuti perintah utusan Allah. Rantai tangannya gugur dan dia dituntun ke luar penjara yang terkunci itu tanpa sedikit pun diketahui para prajurit yang mengawalnya! Nanti sesudah di luar barulah dia sadar dia bukan bermimpi melainkan benar-benar mengalami mujizat pembebasan dirinya melalui tuntunan seorang malaikat.

Menurut ilmu fisika teoritis modern, Yesus mesti memanfaatkan ruang hiper ketika Dia bangkit dari maut, mampu masuk secara utuh ke dalam ruang tertutup tempat para muridNya berkumpul pada malam hari. Bukan itu saja ekspresi kekuasaan ilahiNya. Seperti Dia masuk, Dia keluar ruang itu secara utuh dan misterius.

Singkat kata, apa yang oleh umat percaya dinyatakan sebagai kejadian-kejadian ajaib yang melibatkan “materialisasi (penampakan secara utuh atau sebagian)” dan “dematerialisasi (lenyapnya penampakan itu)” dari kuasa ilahi diidentifikasi sebagai kejadian-kejadian yang berasal dari ruang hiper oleh ilmu fisika teoritis modern. Jadi, menurut saya, Alkitab berbicara juga tentang ruang hiper.

Implikasi Ruang Hiper bagi Kepercayaan Religius

Apakah implikasi teori tentang ruang hiper bagi kepercayaan religius? Banyak.

Kalau nanti dibuktikan bahwa teori ini memang benar, maka ia bisa menjawab – barangkali, tidak seluruhnya – berbagai misteri di dalam Alkitab. Fakta ruang hiper bisa menjelaskan penampakan sebagian tangan dan jari-jari yang dilihat Belsyazar, muncul-lenyapnya malaikat “sesuka hatinya”, kebangkitan Lazarus dan Yesus dari maut, kemampuan Yesus berjalan di atas permukaan air danau, kemampuanNya meneduhkan angin ribut, kemampuanNya masuk-keluar ruang tridimensional yang tertutup dan bertembok dan menampakkan diriNya pada murid-muridNya sesudah Dia bangkit dari maut, kemampuanNya terangkat ke sorga tanpa bantuan teknologi penerbangan apa pun, misteri keluarnya Petrus dari penjara tanpa disadari sekalipun oleh para penjaga, dan berbagai mujizat lain dalam Alkitab. Pemahaman baru ini bisa mematahkan secara meyakinkan banyak kesangsian tentang dan bahkan penolakan terhadap kebenaran alkitabiah. Melalui fakta ruang hiper, kita makin menyadari bahwa realitas tidak selebar daun kelor, tidak seluas ruang tridimensional ditambah waktu yang kita, manusia, alami sebagai makhluk tridimensional. Ada realitas multidimensional yang belum pernah kita alami yang jauh lebih luas, lebih tinggi, lebih dalam dari realitas tridimensional di lingkungan hidup kita. Realitas ruang hiper ini menghasilkan logika dan penalaran yang lebih rumit dan bahkan lebih aneh daripada yang kita pakai dalam dunia tridimensional kita.